Kekeringan parah mulai memberikan tekanan besar terhadap sektor pertanian Slovenia. Salah satu komoditas yang terkena dampak paling nyata adalah kentang. Kondisi cuaca yang kering dan suhu tinggi membuat hasil panen tahun ini turun tajam di sejumlah wilayah.
Perkiraan dari Chamber of Agriculture and Forestry of Slovenia menunjukkan kehilangan hasil kentang berada pada kisaran 30 hingga 90 persen. Besarnya penurunan berbeda menurut lokasi dan kondisi lahan masing-masing petani.
Situasi tersebut tidak hanya menjadi persoalan bagi petani. Penurunan produksi juga dapat memengaruhi pasokan pangan, pendapatan usaha tani, serta kebutuhan impor apabila produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi permintaan.
Kekeringan Menghantam Produksi Kentang Slovenia
Kekeringan paling parah terjadi pada paruh pertama Agustus ketika suhu meningkat dan curah hujan tidak mencukupi. Varietas kentang yang memiliki masa tanam lebih panjang mengalami tekanan lebih besar karena membutuhkan air dalam tahap pertumbuhan umbi.
Sejumlah petani mengalami penurunan hasil yang signifikan. Salah satu petani kecil di Velike Lašče bahkan kehilangan sekitar setengah dari hasil panennya tahun ini.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak kekeringan tidak selalu sama pada setiap lahan. Jenis kentang, lokasi pertanian, kondisi tanah, serta ketersediaan air dapat menentukan seberapa besar hasil panen yang mampu diperoleh petani.
Slovenia Masih Bergantung pada Pasokan dari Luar
Masalah produksi menjadi semakin penting karena Slovenia belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan kentangnya dari produksi domestik.
Pada 2025, Slovenia hanya menghasilkan sekitar sepertiga dari total konsumsi kentang nasional. Angka tersebut menunjukkan bahwa negara tersebut sudah memiliki ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Ketika produksi lokal kembali turun, kebutuhan terhadap pasokan dari luar dapat meningkat. Situasi ini berpotensi menambah tekanan terhadap rantai pasok, terutama apabila negara pemasok juga menghadapi masalah produksi.
Karena itu, kekeringan tidak hanya memengaruhi petani di lahan. Dampaknya dapat bergerak ke pedagang, pengolah makanan, restoran, hingga konsumen.
Harga Kentang Bisa Menghadapi Tekanan
Penurunan produksi biasanya membuat keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi lebih sulit. Jika jumlah kentang yang tersedia turun sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga dapat menghadapi tekanan.
Namun, harga akhir tidak hanya bergantung pada hasil panen. Biaya transportasi, penyimpanan, pupuk, tenaga kerja, energi, serta kondisi perdagangan juga ikut menentukan harga yang diterima konsumen.
Bagi pelaku bisnis makanan, perubahan harga bahan baku dapat memengaruhi biaya produksi. Restoran dan produsen makanan yang menggunakan kentang dalam jumlah besar perlu menyesuaikan perencanaan pembelian agar margin usaha tetap terjaga.
Masalah Tidak Hanya Terjadi di Slovenia
Krisis kentang akibat cuaca ekstrem ternyata memiliki cakupan lebih luas. Analisis Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) yang dirilis 17 September memperkirakan kekeringan musim panas dapat memangkas sekitar 3,1 juta ton hasil kentang di Jerman, Prancis, Belgia, dan Belanda. Jika dampak di Inggris ikut dihitung, kehilangan produksi dapat mencapai lebih dari 3,5 juta ton.
ECIU memperkirakan nilai kehilangan produksi di lima negara tersebut berada pada kisaran 498 juta hingga 818 juta euro, berdasarkan kisaran harga saat analisis dilakukan.
Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan produksi kentang tidak berdiri sendiri. Ketika beberapa negara produsen utama mengalami penurunan hasil secara bersamaan, pasar regional dapat menghadapi tekanan yang lebih besar.
Petani Menghadapi Biaya Produksi yang Tidak Ringan
Kekeringan membuat petani menghadapi dua persoalan sekaligus. Di satu sisi, jumlah hasil panen menurun. Di sisi lain, petani tetap perlu mengeluarkan biaya untuk mengelola lahan.
Pupuk, bahan bakar, tenaga kerja, irigasi, dan perlengkapan pertanian tetap membutuhkan biaya. Bahkan, kondisi kering dapat meningkatkan kebutuhan air bagi tanaman dan membuat sistem irigasi menjadi semakin penting.
Pemerintah Slovenia sebelumnya juga mencatat dampak kekeringan terhadap sejumlah tanaman, termasuk kentang, jagung, tanaman pakan, dan sayuran. Pemerintah menyebut investasi pada sistem irigasi sebagai salah satu langkah penting untuk membantu pertanian menghadapi kondisi kering yang semakin sering terjadi.
Bisnis Makanan Ikut Perlu Beradaptasi
Penurunan hasil kentang dapat memberikan efek lanjutan kepada bisnis yang menggunakan komoditas tersebut sebagai bahan baku.
Restoran, produsen makanan beku, industri makanan ringan, hingga pengolah kentang perlu memperhatikan ketersediaan bahan baku. Jika pasokan lokal berkurang, pelaku usaha dapat mencari sumber alternatif dari wilayah lain.
Namun, pilihan tersebut juga memiliki konsekuensi. Jarak distribusi yang lebih jauh dapat meningkatkan biaya transportasi dan penyimpanan.
Karena itu, perusahaan makanan perlu memperhatikan rantai pasok secara lebih fleksibel. Mereka dapat menjalin hubungan dengan beberapa pemasok sekaligus agar tidak terlalu bergantung pada satu wilayah produksi.
Kekeringan Mulai Menjadi Risiko Bisnis Pertanian
Slovenia memiliki sektor pertanian yang banyak ditopang oleh petani kecil dan usaha keluarga. Kondisi tersebut membuat perubahan hasil panen memiliki dampak langsung terhadap pendapatan rumah tangga petani.
Bagi petani, diversifikasi tanaman dapat menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu komoditas. Sementara itu, penggunaan sistem irigasi dan pemilihan varietas yang sesuai dengan kondisi lingkungan juga dapat membantu menghadapi risiko cuaca.
Data lingkungan Slovenia menunjukkan bahwa kekeringan pertanian semakin sering terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Otoritas lingkungan negara tersebut mencatat tujuh kejadian kekeringan yang berdampak pada Slovenia dalam skala bencana alam selama dua dekade terakhir.
Dampaknya Bisa Terasa hingga Konsumen
Bagi masyarakat, penurunan produksi kentang mungkin terlihat sederhana. Namun, komoditas tersebut memiliki hubungan dengan banyak kegiatan ekonomi.
Kentang digunakan dalam rumah tangga, restoran, industri makanan ringan, produk beku, hingga berbagai makanan olahan. Ketika pasokan berkurang, perubahan harga dapat memengaruhi biaya pada sejumlah sektor.
Kondisi Slovenia juga memberikan gambaran mengenai bagaimana cuaca ekstrem dapat berkembang menjadi persoalan ekonomi. Masalahnya tidak berhenti ketika tanaman gagal tumbuh, tetapi dapat berlanjut ke rantai pasok dan harga produk.
Petani dan Bisnis Perlu Menghadapi Perubahan Cuaca
Kekeringan di Slovenia menunjukkan bahwa sektor pertanian semakin membutuhkan strategi untuk menghadapi perubahan kondisi cuaca. Penurunan hasil kentang tahun ini menjadi perhatian karena Slovenia memang belum memenuhi seluruh kebutuhan kentangnya dari produksi domestik.
Pada saat yang sama, masalah serupa juga muncul di sejumlah negara produsen kentang besar di Eropa. Jika kondisi kering terus memberikan tekanan terhadap produksi, petani dan pelaku bisnis perlu menyesuaikan cara mengelola pasokan.
Bagi konsumen, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa kondisi cuaca di suatu wilayah dapat memengaruhi ketersediaan dan harga makanan jauh di luar wilayah tersebut.
Baca juga: Jepang Kekurangan Tenaga Kerja, Bisnis Mulai Bergantung pada Pekerja Asing
