Jepang kembali menghadapi persoalan besar di dunia kerja. Kekurangan tenaga kerja semakin terasa di berbagai sektor bisnis, mulai dari konstruksi, transportasi, hingga layanan kesehatan. Kondisi tersebut membuat perusahaan mencari cara baru agar kegiatan usaha tetap berjalan.
Data terbaru dari Japan Chamber of Commerce and Industry (JCCI) dan Tokyo Chamber of Commerce and Industry menunjukkan bahwa 60 persen perusahaan responden mengalami kekurangan tenaga kerja. Survei tersebut melibatkan 2.654 perusahaan anggota kamar dagang dari seluruh 47 prefektur di Jepang.
Situasi ini kemudian mendorong semakin banyak perusahaan Jepang untuk mencari tenaga kerja dari luar negeri. Bagi dunia bisnis, kebutuhan tersebut bukan hanya berkaitan dengan jumlah pekerja, tetapi juga kemampuan perusahaan menjaga operasional di tengah perubahan struktur penduduk.
Kekurangan Tenaga Kerja Mencapai 60 Persen
Hasil survei JCCI menunjukkan bahwa enam dari 10 perusahaan mengalami kekurangan tenaga kerja. Dari kelompok tersebut, hampir setengahnya mengaku kondisi kekurangan pekerja sudah memberikan dampak terhadap kegiatan usaha.
Kondisi paling berat terlihat pada beberapa sektor tertentu. Industri konstruksi mencatat kekurangan tenaga kerja sebesar 77,4 persen, kemudian sektor transportasi sebesar 72,2 persen. Sementara itu, sektor keperawatan dan kesehatan mencapai 70,5 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah tenaga kerja tidak hanya terjadi pada satu jenis bisnis. Sektor yang membutuhkan banyak pekerja secara langsung menghadapi tekanan yang lebih besar.
Akibatnya, perusahaan perlu mencari berbagai cara agar aktivitas bisnis tetap berjalan tanpa mengurangi kualitas layanan.
Perusahaan Mulai Mengandalkan Tenaga Kerja Asing
Salah satu strategi yang berkembang adalah merekrut pekerja asing. Japan Times melaporkan bahwa survei terhadap perusahaan Jepang menunjukkan 68,2 persen perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja asing melakukannya untuk mengatasi kekurangan pekerja. Alasan tersebut menjadi alasan utama dalam survei setiap tahun sejak 2023.
Jumlah pekerja asing di Jepang juga terus meningkat. Data yang dirangkum Nippon.com dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang mencatat sekitar 2,6 juta pekerja asing per Oktober 2025, naik 11,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa pekerja asing memiliki peran yang semakin besar dalam pasar kerja Jepang.
Tidak Semua Perusahaan Bisa Berjalan Tanpa Pekerja Asing
Ketergantungan terhadap pekerja asing terlihat semakin jelas dalam survei terbaru. Dari perusahaan Jepang yang sudah mempekerjakan tenaga kerja asing, 65,9 persen mengatakan bisnis mereka dapat terganggu jika perekrutan pekerja asing tambahan menjadi sulit.
Dampaknya bahkan lebih tinggi pada sektor tertentu.
Di bidang keperawatan dan kesehatan, angka tersebut mencapai 93,8 persen. Sementara itu, transportasi mencapai 73,7 persen dan manufaktur 73,1 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa tenaga kerja asing sudah menjadi bagian penting dari operasional sejumlah perusahaan Jepang.
Sektor Apa yang Paling Membutuhkan Pekerja?
Konstruksi menjadi salah satu sektor yang menghadapi persoalan tenaga kerja paling besar. Proyek pembangunan membutuhkan banyak pekerja dengan keterampilan tertentu. Ketika jumlah pekerja tidak mencukupi, perusahaan dapat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan proyek.
Transportasi juga menghadapi persoalan serupa. Kekurangan pekerja dapat memberikan tekanan terhadap kegiatan distribusi dan layanan logistik.
Kemudian ada sektor keperawatan dan kesehatan yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Penuaan penduduk Jepang turut meningkatkan kebutuhan terhadap layanan perawatan.
Karena itu, kebutuhan pekerja tidak hanya muncul dari perusahaan yang ingin memperluas bisnis. Sebagian perusahaan membutuhkan tenaga tambahan agar layanan yang sudah berjalan tetap dapat mereka pertahankan.
Jepang Juga Menghadapi Persaingan Mendapatkan Pekerja Asing
Kebutuhan tenaga kerja asing ternyata tidak hanya datang dari Jepang. Negara-negara Asia lainnya juga berusaha menarik pekerja dari negara yang sama.
Sebuah survei terhadap 47 prefektur Jepang menunjukkan bahwa 20 prefektur sudah menandatangani nota kerja sama dengan pemerintah atau lembaga luar negeri untuk membantu mendapatkan tenaga kerja asing. Vietnam menjadi negara yang paling sering menjadi mitra, kemudian Indonesia dan India.
Beberapa pemerintah daerah Jepang bahkan mulai melihat perekrutan tenaga kerja asing sebagai persaingan antardaerah dan antarnegara.
Kondisi tersebut membuat perusahaan Jepang perlu menawarkan lingkungan kerja dan kesempatan yang cukup menarik bagi calon pekerja dari luar negeri.
Perusahaan Mulai Mencari Cara Mengurangi Ketergantungan pada Tenaga Manusia
Perekrutan pekerja bukan satu-satunya solusi. Perusahaan Jepang juga mulai mencari cara untuk meningkatkan efisiensi.
Dalam survei JCCI, sekitar 40,2 persen perusahaan menyebut pemanfaatan teknologi digital dan langkah penghematan tenaga sebagai salah satu cara menghadapi kekurangan pekerja.
Teknologi dapat membantu perusahaan mengurangi pekerjaan berulang. Otomatisasi juga dapat membuat beberapa proses berjalan lebih cepat.
Namun, teknologi tidak selalu bisa menggantikan pekerja manusia. Sektor kesehatan, konstruksi, layanan pelanggan, dan sejumlah pekerjaan teknis tetap membutuhkan keterampilan manusia.
Karena itu, perusahaan kemungkinan perlu menggabungkan perekrutan tenaga kerja dengan penggunaan teknologi.
Peluang bagi Pekerja Asing, Termasuk dari Indonesia
Kondisi pasar kerja Jepang membuka peluang bagi pekerja dari berbagai negara. Indonesia menjadi salah satu negara yang semakin sering masuk dalam kerja sama perekrutan tenaga kerja Jepang.
Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pekerja asing asal Indonesia di Jepang tumbuh 34,6 persen secara tahunan, menjadi salah satu pertumbuhan terbesar berdasarkan negara asal.
Peluang tersebut terutama berkaitan dengan sektor yang mengalami kekurangan tenaga kerja. Namun, calon pekerja tetap perlu memenuhi persyaratan keterampilan, bahasa, dokumen, serta aturan kerja yang berlaku di Jepang.
Bagi perusahaan, perekrutan pekerja asing juga membutuhkan pengelolaan yang baik. Adaptasi budaya, komunikasi, dan lingkungan kerja menjadi bagian penting agar tenaga kerja baru dapat bekerja secara optimal.
Kekurangan Tenaga Kerja Menjadi Tantangan Bisnis Jepang
Kekurangan tenaga kerja kini menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi berbagai sektor bisnis di Jepang. Data terbaru menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya menghadapi kesulitan mencari pekerja, tetapi juga mulai bergantung pada tenaga kerja asing untuk menjaga kegiatan operasional.
Pada saat yang sama, perusahaan perlu meningkatkan produktivitas melalui teknologi dan efisiensi kerja. Dengan kombinasi tersebut, bisnis dapat menghadapi perubahan pasar tenaga kerja yang terus berkembang.
Bagi pekerja asing, situasi ini membuka peluang untuk masuk ke pasar kerja Jepang. Namun, persaingan antarnegara dalam menarik tenaga kerja juga semakin meningkat. Karena itu, keterampilan, kemampuan bahasa, dan pemahaman terhadap kebutuhan industri akan menjadi faktor penting dalam melihat peluang kerja di Jepang.
Baca juga: Pemerintah Rusia Klarifikasi soal Peringatan Tsunami
